Showing posts with label hidup lagi. Show all posts
Showing posts with label hidup lagi. Show all posts

Thursday, August 18, 2016

Doa MENGGEMPARKAN Usai Pidato Presiden Jokowi: "Ya Allah, Jauhkan kami dari pemimpin khianat"

JAKARTA - Usai Presiden Joko Widodo membacakan laporan APBN-P dan nota keuangan, Ketua DPR RI Ade Komarudin yang memimpin Rapat Paripurna mempersilakan Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Muhammad Syafi'i untuk memimpin doa.

Rupanya doa yang disampaikan oleh Syafi'i begitu tajam dan menyindir berbagai persoalan di Indonesia.

Di hadapan Presiden Jokowi yang turut mengangkat kedua tangan berdoa, lantunan do'a dari Muhammad Syafi'i ini begitu telak:

"Ya Allah, Jauhkan kami dari pemimpin yang khianat yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong, dan kekuasaan yang bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat,"



Doa ini mendapat apresiasi luar biasa dari peserta sidang. Tepuk tangan membahana hampir setengah menit. Selama pembacaan doa pun, ribuan peserta sidang tampak hikmat menundukkan kepala.



TEKS LENGKAP DOA:

"Seperti mata pisau yang hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas sehingga mengusik rasa

keadilan bangsa ini. Wahai Allah, memang semua penjara overcapacity tapi kami tidak melihat ada upaya untuk mengurangi kejahatan karena kejahatan seperti diorganisir, ya Allah,"

"Kami tahu pesan dari sahabat Nabi Nuh, bahwa kejahatan-kejahatan ini bisa hebat bukan karena penjahat yang hebat tapi karena orang-orang baik belum bersatu atau belum mempunyai kesempatan di negeri ini untuk membuat kebijakan-kebijakan yang baik yang bisa menekan kejahatan-kejahatan itu,"

"Biarlah kehidupan ekonomi kami, Bung Karno sangat khawatir bangsa kami akan menjadi kuli di negeri kami sendiri. tapi hari ini, sepertinya kami kehilangan kekuatan untuk menyetop itu bisa terjadi. Lihatlah Allah, bumi kami yang kaya dikelola oleh bangsa lain dan kulinya adalah bangsa kami,"

"Ya rabbal aalamin. Kehidupan sosial budaya, seperti kami kehilangan jati diri bangsa ini, yang ramah, yang santun, yang saling percaya. Kami juga belum tahu bagaimana kekuatan pertahanan dan keamanan bangsa ini kalau suatu ketika bangsa lain menyerang bangsa kami. Ya Rahman ya Rahim, tapi kami masih percaya kepada-Mu, bahwa kami masih menadahkan tangan kepada-Mu, artinya Engkau adalah Tuhan kami, engkau adalah Allah YME,"

"Jauhkan kami dari pemimpin yang khianat yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong, dan kekuasaan yang bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat,"

"Dimana rakyat digusur tanpa tahu kemana mereka harus pergi. dimana-mana rakyat kehilangan pekerjaan, Allah di negeri ini rakyat ini outsourcing, tidak ada jaminan kehidupan mereka. Aparat seakan begitu antusias untuk menakuti rakyat. Hari ini di Kota Medan di Sumut, 5000 KK sengsara dengan perlakuan aparat negeri ini,"

"Allah, lindungilah rakyat ini, mereka banyak tidak tahu apa-apa. Mereka percayakan kendali negera dan pemerintahan kepada pemerintah. Allah, kalau ada mereka yang ingin bertaubat, terimalah taubat mereka ya Allah. Tapi kalau mereka tidak brtaubat dengan kesalahan yang dia perbuat, gantikan dia dengan pemimpin yang lebih baik di negeri ini Ya Allah,"

Sunday, July 31, 2016

Inilah Pesan Terakhir Freddy Budiman Yang Menggemparkan Sebelum Dieksekusi Mati



Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Batu, Abdul Haris mengungkap kata-kata terakhir Freddy Budiman, terpidana mati asal Indonesia yang sudah dieksekusi dini hari tadi di Pulau Nusamkambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Sebelum dieksekusi, Freddy Budiman dipertemukan dengan istri dan anak-anaknya untuk menyampaikan pesan terakhir. Kemudian kepada para petugas lapas ia juga sempat mengaturkan salam perpisahan.

"Ya kalau sama petugas dia minta maaf dan terima kasih atas segala bantuannya," kata Abdul saat dihubungi Okezone, Jumat (29/7/2016).

Abdul mengaku tak melihat secara langsung eksekusi terhadap empat terpidana mati tersebut. Sementara bagi 10 terpidana mati yang belum dieksekusi, menurut dia, kondisinya dalam keadaan baik-baik saja.

"Saat eksekusi saya ada di kantor, menunggu yang belum dieksekusi, mereka dalam kondisi yang baik-baik saja, " ungkapnya.

Selain Freddy, tiga terpidana mati yang telah dieksekusi adalah Humprey Ejike dan Mikael Titus Igweh, keduanya warga Nigeria. Kemudian Gajetan Acena Seck Osmane, warga Afrika Selatan.

Saat ini ketiga jenazah terpidana mati sudah dikeluarkan dari Nusakambangan menuju tempat persemayaman masing-masing.

Pantas Narkoba Tak Pernah Habis, Ini Kebusukan Pejabat BNN Yang Di Ungkap Freddy Budiman

Detik-detik eksekusi mati terpidana kasus narkoba terhadap Freddy Budiman dkk ‘menggetarkan’ Tanah Air. Ada yang pro dan banyak yang kontra terhadap eksekusi mati ini. Mereka punya alasan masing-masing.


Termasuk Harris Azhar, Koordinator Kontras. Dia menulis panjang cerita pengakuan Freddy Budiman, salah satu bandar kakap. Tulisan Harris atas pengakuan Freddy Budiman mengungkap fakta-fakta yang jarang diketahui banyak orang.

Tulisan Harris ini diposting ulang Ulil Abshar Abdalla pada Jumat (29/7/2016) dini hari. Berikut tulisan kesaksian Harris Azhar dari Freddy Budiman:

“Cerita Busuk dari seorang Bandit”

Kesaksian bertemu Freddy Budiman di Lapas Nusa Kambangan (2014)

Di tengah proses persiapan eksekusi hukuman mati yang ketiga dibawah pemerintahan Joko Widodo, saya menyakini bahwa pelaksanaan ini hanya untuk ugal-ugalan popularitas. Bukan karena upaya keadilan. Hukum yang seharusnya bisa bekerja secara komprehensif menyeluruh dalam menanggulangi kejahatan ternyata hanya mimpi. Kasus Penyeludupan Narkoba yang dilakukan Freddy Budiman, sangat menarik disimak, dari sisi kelemahan hukum, sebagaimana yang saya sampaikan dibawah ini.

Di tengah-tengah masa kampanye Pilpres 2014 dan kesibukan saya berpartisipasi memberikan pendidikan HAM di masyarakat di masa kampanye pilpres tersebut, saya memperoleh undangan dari sebuah organisasi gereja. Lembaga ini aktif melakukan pendampingan rohani di Lapas Nusa Kambangan (NK). Melalui undangan gereja ini, saya jadi berkesempatan bertemu dengan sejumlah narapidana dari kasus teroris, korban kasus rekayasa yang dipidana hukuman mati. Antara lain saya bertemu dengan John Refra alias John Kei, juga Freddy Budiman, terpidana mati kasus Narkoba. Kemudian saya juga sempat bertemu Rodrigo Gularte, narapidana WN Brasil yang dieksekusi pada gelombang kedua (April 2015).

Saya patut berterima kasih pada Bapak Sitinjak, Kepala Lapas NK (saat itu), yang memberikan kesempatan bisa berbicara dengannya dan bertukar pikiran soal kerja-kerjanya. Menurut saya Pak Sitinjak sangat tegas dan disiplin dalam mengelola penjara. Bersama stafnya beliau melakukan sweeping dan pemantauan terhadap penjara dan narapidana. Pak Sitinjak hampir setiap hari memerintahkan jajarannya melakukan sweeping kepemilikan HP dan senjata tajam. Bahkan saya melihat sendiri hasil sweeping tersebut, ditemukan banyak sekali HP dan sejumlah senjata tajam.

Tetapi malang Pak Sitinjak, di tengah kerja kerasnya membangun integritas penjara yang dipimpinnya, termasuk memasang dua kamera selama 24 jam memonitor Freddy budiman. Beliau menceritakan sendiri, beliau pernah beberapa kali diminta pejabat BNN yang sering berkunjung ke Nusa Kambangan, agar mencabut dua kamera yang mengawasi Freddy Budiman tersebut.

Saya mengangap ini aneh, hingga muncul pertanyaan, kenapa pihak BNN berkeberatan adanya kamera yang mengawasi Freddy Budiman? Bukankah status Freddy Budiman sebagai penjahat kelas “kakap” justru harus diawasi secara ketat? Pertanyaan saya ini terjawab oleh cerita dan kesaksian Freddy Budiman sendiri.

Menurut ibu pelayan rohani yang mengajak saya ke NK, Freddy Budiman memang berkeinginan bertemu dan berbicara langsung dengan saya. Pada hari itu menjelang siang, di sebuah ruangan yang diawasi oleh Pak Sitinjak, dua pelayan gereja, dan John Kei, Freddy Budiman bercerita hampir 2 jam, tentang apa yang ia alami, dan kejahatan apa yang ia lakukan. Freddy Budiman mengatakan kurang lebih begini pada saya:

“Pak Haris, saya bukan orang yang takut mati, saya siap dihukum mati karena kejahatan saya, saya tahu, resiko kejahata yang saya lakukan. Tetapi saya juga kecewa dengan para pejabat dan penegak hukumnya.


“Saya bukan bandar, saya adalah operator penyeludupan narkoba skala besar, saya memiliki bos yang tidak ada di Indonesia. Dia (bos saya) ada di Cina. Kalau saya ingin menyeludupkan narkoba, saya tentunya acarain (atur) itu. Saya telepon polisi, BNN, Bea Cukai dan orang-orang yang saya telpon itu semuanya nitip (menitip harga). Menurut Pak Haris berapa harga narkoba yang saya jual di Jakarta yang pasarannya 200.000 – 300.000 itu?”

Saya menjawab 50.000. Fredi langsung menjawab:
“Salah. Harganya hanya 5000 perak keluar dari pabrik di Cina. Makanya saya tidak pernah takut jika ada yang nitip harga ke saya. Ketika saya telepon si pihak tertentu, ada yang nitip Rp 10.000 per butir, ada yang nitip 30.000 per butir, dan itu saya tidak pernah bilang tidak. Selalu saya okekan. Kenapa Pak Haris?”

Fredy menjawab sendiri. “Karena saya bisa dapat per butir 200.000. Jadi kalau hanya membagi rejeki 10.000- 30.000 ke masing-masing pihak di dalam institusi tertentu, itu tidak ada masalah. Saya hanya butuh 10 miliar, barang saya datang. Dari keuntungan penjualan, saya bisa bagi-bagi puluhan miliar ke sejumlah pejabat di institusi tertentu.”

Fredy melanjutkan ceritanya. “Para polisi ini juga menunjukkan sikap main di berbagai kaki. Ketika saya bawa itu barang, saya ditangkap. Ketika saya ditangkap, barang saya disita. Tapi dari informan saya, bahan dari sitaan itu juga dijual bebas. Saya jadi dipertanyakan oleh bos saya (yang di Cina). ‘Katanya udah deal sama polisi, tapi kenapa lo ditangkap? Udah gitu kalau ditangkap kenapa barangnya beredar? Ini yang main polisi atau lo?’”

Menurut Freddy, “Saya tau pak, setiap pabrik yang bikin narkoba, punya ciri masing-masing, mulai bentuk, warna, rasa. Jadi kalau barang saya dijual, saya tahu, dan itu ditemukan oleh jaringan saya di lapangan.”

Fredi melanjutkan lagi. “Dan kenapa hanya saya yang dibongkar? Kemana orang-orang itu? Dalam hitungan saya, selama beberapa tahun kerja menyeludupkan narkoba, saya sudah memberi uang 450 Miliar ke BNN.

Saya sudah kasih 90 Milyar ke pejabat tertentu di Mabes Polri. Bahkan saya menggunakan fasilitas mobil TNI bintang 2, di mana si jendral duduk di samping saya ketika saya menyetir mobil tersebut dari Medan sampai Jakarta dengan kondisi di bagian belakang penuh barang narkoba. Perjalanan saya aman tanpa gangguan apapun.

“Saya prihatin dengan pejabat yang seperti ini. Ketika saya ditangkap, saya diminta untuk mengaku dan menceritakan dimana dan siapa bandarnya. Saya bilang, investor saya anak salah satu pejabat tinggi di Korea (saya kurang paham, korut apa korsel- HA).

Saya siap nunjukin dimana pabriknya. Dan saya pun berangkat dengan petugas BNN (tidak jelas satu atau dua orang). Kami pergi ke Cina, sampai ke depan pabriknya. Lalu saya bilang kepada petugas BNN, mau ngapain lagi sekarang? Dan akhirnya mereka tidak tahu, sehingga kami pun kembali.

“Saya selalu kooperatif dengan petugas penegak hukum. Kalau ingin bongkar, ayo bongkar. Tapi kooperatif-nya saya dimanfaatkan oleh mereka. Waktu saya dikatakan kabur, sebetulnya saya bukan kabur. Ketika di tahanan, saya didatangi polisi dan ditawari kabur, padahal saya tidak ingin kabur, karena dari dalam penjara pun saya bisa mengendalikan bisnis saya. Tapi saya tahu polisi tersebut butuh uang, jadi saya terima aja. Tapi saya bilang ke dia kalau saya tidak punya uang. Lalu polisi itu mencari pinjaman uang kira-kira 1 miliar dari harga yang disepakati 2 miliar. Lalu saya pun keluar. Ketika saya keluar, saya berikan janji setengahnya lagi yang saya bayar. Tapi beberapa hari kemudian saya ditangkap lagi. Saya paham bahwa saya ditangkap lagi, karena dari awal saya paham dia hanya akan memeras saya.”

Freddy juga mengekspresikan bahwa dia kasihan dan tidak terima jika orang-orang kecil, seperti supir truk yang membawa kontainer narkoba yang justru dihukum, bukan si petinggi-petinggi yang melindungi.

Kemudian saya bertanya ke Freddy dimana saya bisa dapat cerita ini? Kenapa Anda tidak bongkar cerita ini? Lalu Freddy menjawab:

“Saya sudah cerita ke lawyer saya, kalau saya mau bongkar, ke siapa? Makanya saya penting ketemu Pak Haris, biar Pak Haris bisa menceritakan ke publik luas. Saya siap dihukum mati, tapi saya prihatin dengan kondisi penegak hukum saat ini. Coba Pak Haris baca saja di pledoi saya di pengadilan, seperti saya sampaikan di sana.”

Lalu saya pun mencari pledoi Freddy Budiman, tetapi pledoi tersebut tidak ada di website Mahkamah Agung. Yang ada hanya putusan yang tercantum di website tersebut. Putusan tersebut juga tidak mencantumkan informasi yang disampaikan Freddy, yaitu adanya keterlibatan aparat negara dalam kasusnya.

Kami di KontraS mencoba mencari kontak pengacara Freddy, tetapi menariknya, dengan begitu kayanya informasi di internet, tidak ada satu pun informasi yang mencantumkan dimana dan siapa pengacara Freddy.

Dan kami gagal menemui pengacara Freddy untuk mencari informasi yang disampaikan, apakah masuk ke berkas Freddy Budiman sehingga bisa kami mintakan informasi perkembangan kasus tersebut.***

sumber

Monday, July 11, 2016

12 Foto unik pelajar Indonesia ini bikin geleng-geleng kepala

Semakin canggih teknologi fotografi, membuat orang jadi kreatif dalam menghasilkan karya foto. Apalagi setelah hadirnya media sosial yang membuat orang-orang berlomba-lomba untuk menghasilkan foto yang unik dan kreatif.

Nah, saking kreatifnya mereka jadi bisa membuat pose foto antimainstream yang bikin bingung orang lain yang melihatnya. Seperti 12 foto para pelajar yang brilio.net kumpulkan dari akun Instagram mereka ini. Bikin penasaran, gimana cara bikinnya ya?

1. Ajaib, pelajar zaman sekarang bisa terbang.





2. Loh, kepalanya bisa terpisah gitu ya...





3. Hmmm... Bisa ya melawan gravitasi kayak gitu.





4. Ternyata Indonesia juga punya Spiderman.





5. Sakti banget sih dek, bisa angkat orang sebanyak itu.





6. Sepatunya ada lemnya kali ya...





7. Hmmm... Niat banget sih dek.





8. Jangan macem-macem deh sama cewek zaman sekarang.





9. Kalau dilihat guru kira-kira dimarahin nggak ya?





10. Tuh kan bener, Indonesia punya Spiderman.





11. Ini pakai sihir macam apa lagi ya?





12. Hmmm... No comment deh!


Kaget!!, Jokowi KW Bikin Heboh Warga Bandung

Kawasan trotoar jalan Asia Afrika Kota Bandung Jawa Barat dipadati pejalan kaki pada liburan hari kedua lebaran Idul Fitri 1437 Hijriah, Kamis 7 Juli 2016. Terpantau, warga mengerumuni satu titik, tepatnya di depan pintu masuk Gedung Merdeka.

Dari pantauan VIVA.co,id, banyak warga Bandung, mulai dari anak kecil, dewasa hingga orangtua, mengantre untuk berfoto bersama sosok tersebut. Bahkan tak jarang, warga yang berjalan kaki dan menggunakan kendaraan heran dengan kerumunan itu, dan saat menengok, mereka pun langsung tertawa terbahak-bahak.

Ternyata, saat disambangi VIVA.co.id, kerumunan itu tengah mengantre untuk berfoto dengan Jokowi KW 1. Dengan senyum santai khas, Khalid (48), yang memiliki wajah mirip Presiden Joko Widodo, asyik menirukan bahasa tubuh sang Presiden.

Dengan mengenakan kemeja putih dan celana serta sepatu warna hitam, sebagai khas seragam kabinet kerja, Jokowi KW dengan senyum sipitnya melambaikan tangan ke warga. Mereka pun yang melihatnya tak kuat menahan tawa.

“Aya naon sih'? (Ada apa sih?), eh ada Jokowi,” ujar salah satu pengunjung yang langsung terbahak-bahak di depan gedung Merdeka jalan Asia Afrika Kota Bandung, Kamis 7 Juli 2016.

Tak sedikit banyak yang ingin mengabadikan foto bersama Jokowi KW. Salah satu pengunjung yang tengah berfoto, Mohamad Hasan Irfan (35), mengaku kaget dengan sosok KW itu.

"Kaget sih kaget, tapi enggak bisa menahan tawa. Apalagi kalau sudah senyum itu loh, bikin ngakak," kata Hasan kepada VIVA.co.id.

Meski ruas jalan macet, baik pejalan kaki dan pengguna kendaraan tidak mengkhawatirkan hal tersebut. Mereka berhenti sejenak untuk berteriak, “Pak Jokowi, pak Jokowi selamat Lebaran”.

Di-LIKE yah...Heboh! Wanita Ini Ingin Punya Anak dari Mayat Tunangan



Perempuan asal Toowoomba, Queensland, Australia, secara resmi mendapat izin dari pengadilan untuk mengangkat buah zakar tunangannya yang meninggal. Upaya itu dilakukan untuk memenuhi harapannya untuk memiliki anak.

Perempuan ini mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung untuk mengangkat buah zakar tunangannya, yang meninggal dunia pada April silam. Dia ingin melakukan pembuahan agar memiliki keturunan.

Di pengadilan, para saksi yang merupakan teman-teman pasangan ini mengatakan keduanya sangat ingin memiliki anak. Pasangan ini bertemu pada September 2015 dan bertunangan sebulan kemudian.

Keduanya sebenarnya berencana menikah pada tahun ini. Namun sayang, sebelum rencana itu terlaksana, sang lelaki telah meninggal dunia.

Dalam keputusannya, Hakim Martin Burns mengingatkan wanita ini hanya punya waktu 24 jam sejak kematian tunangannya untuk pengangkatan buah zakar itu, agar sperma bisa dimanfaatkan.

“Putusan pengadilan akan membuka peluang pemberian izin terhadap penggunaan bahan ter-ekstraksi,” kata Martin, sebagaimana dikutip Dream dari laman Radioaustralia.net.au.

“Jika sebuah permohonan untuk tujuan kesuburan itu disetujui, pihak pengadilan harus memastikan bahwa izin itu tidak akan sia-sia,” tambah dia.

Sejauh ini, pengacara dan keluarga pria yang meninggal itu tidak menentang permohonan ini. Pengadilan memutuskan buah zakar sang pria harus disimpan di fasilitas IVF pilihan sang wanita.

Namun sang wanita harus membuat permohonan berikutnya ke pengadilan untuk menggunakan sperma mendiang tunangannya tersebut. (Ism)

Thursday, July 7, 2016

Aneh, Korban Pembunuhan Ini Hidup Lagi Setelah 31 Tahun. Kok Bisa Ya?



Petra Pazsitka, seorang wanita yang semula dikira telah tewas dibunuh, ditemukan masih hidup dengan menggunakan nama palsu. Petra, yang sekarang telah berusia 55 tahun, tinggal di kota Dusseldorf, Jerman.

Selama 31 tahun, Petra dinyatakan telah tewas setelah diperkosa dan dibunuh. Keberadaan jasadnya tidak diketahui. Namun kini misteri pembunuhan puluhan tahun itu telah berakhir setelah korban muncul dalam keadaan hidup dan sehat.

Wanita yang pada masa mudanya pernah menjadi mahasiswi ilmu komputer itu menghilang dari rumahnya di Braunschweig tanpa jejak pada 1984. Dia secara resmi dinyatakan meninggal lima tahun kemudian. Saat itu usianya 24 tahun.

Meskipun tubuhnya tidak pernah ditemukan, kecurigaan diarahkan pada seorang pria yang sebelumnya mengaku memperkosa dan membunuh seorang gadis 14 tahun di Braunschweig. Namun pria itu kemudian mencabut pernyataannya itu.

Sejak Petra dinyatakan hilang, telah dilakukan pencarian secara terus-menerus selama 31 tahun. Namun tidak membuahkan hasil hingga polisi menerima laporan perampokan di Dusseldorf pada 11 September lalu.

Ketika tiba di rumah tempat perampokan terjadi, polisi malah menemukan Petra yang memakai nama samaran Nyonya Schneider. Petra yang sudah berusia 55 tahun memberitahu nama aslinya setelah diminta untuk identifikasi. Polisi yang memeriksanya sangat yakin dengan kisah luar biasa yang diceritakan Petra.

Joachim Grande, juru bicara Kepolisian Braunschweig, mengatakan wanita yang mengaku Petra ini hidup berpindah-pindah di beberapa kota di Jerman Barat selama tiga dekade terakhir, dengan menggunakan nama palsu dan tanpa dokumen resmi.

"Untuk motif kepergiannya, dia tidak memberikan penjelasan, dan secara tegas mengatakan bahwa dia tidak ingin berhubungan dengan masyarakat atau keluarganya," kata Grande.

Pada 26 Juli 1984, Petra meninggalkan flatnya di Braunschweig untuk ke toko, lalu ke dokter gigi, sebelum naik bus yang seharusnya dalam perjalanan ke rumah orangtuanya. Tapi dia tidak pernah tiba di rumah orangtuanya.

Kepada NBC News Grande mengatakan Petra sepertinya sangat hati-hati menyembunyikan identitas aslinya.

"Dia bahkan tidak memiliki rekening bank dan membayar semua tagihannya," katanya. "Ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu. Saudara dan ibu Petra syok dan menangis ketika mereka mendengar berita tentang dia."

Jaksa yakin Petra tidak bermaksud melakukan tindak pidana tapi dia sekarang secara resmi dinyatakan masih hidup dan masih terdaftar sebagai warga Jerman.